EKONOMIAKTUAL.ID — Bursa Efek Indonesia mencatat antrean penerbitan exchange traded fund (ETF) baru di pipeline, didominasi produk berbasis emas. Sejumlah manajer investasi menyatakan minat menyusul tingginya permintaan investor terhadap instrumen emas di pasar modal. Dana kelolaan tujuh produk ETF emas yang sudah beredar mencapai Rp93,9 miliar hingga akhir Agustus 2026.
Kepala Unit Pengembangan Bisnis Produk Terstruktur BEI Pradapaningsih mengungkap rencana peluncuran sejumlah ETF di sisa tahun ini. Pipeline tersebut mencakup ETF emas dan ETF multikelas yang akan diterbitkan manajer investasi.
"Pipeline penerbitan ETF setahu saya ada beberapa, tapi masih yang ETF emas. Kemudian kita juga akan ada penerbit yang akan menerbitkan ETF multikelas," kata Prada saat ditemui di BEI.
ETF multikelas menjadi instrumen baru di pasar modal Indonesia. Regulasi yang mengatur produk ini tergolong masih segar, sehingga manajer investasi yang berminat perlu menyiapkan diri lebih matang.
ETF Emas Mendominasi Antrean Penerbitan
Antrean produk di pipeline sejauh ini didominasi ETF emas. Lonjakan permintaan membuat sejumlah manajer investasi menyatakan minat menerbitkan produk serupa.
"Permintaannya cukup tinggi kalau untuk emas. Jadi banyak manajer investasi yang memang mau menerbitkan produk itu," ujar Prada. Ia belum bisa mengungkap total produk yang sedang dalam pipeline.
Minat manajer investasi tercermin dari pertumbuhan dana kelolaan ETF emas yang sudah melantai. Tujuh produk dari tujuh manajer investasi mencatat dana kelolaan Rp93,9 miliar hingga akhir Agustus 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut angka itu dihimpun sejak ETF emas pertama diluncurkan di BEI.
Dana Kelolaan ETF Emas Capai Rp93,9 Miliar
"Sejak diluncurkan, hingga akhir Agustus ada 7 produk ETF emas yang diterbitkan 7 MI dengan dana kelolaan Rp93,9 miliar," kata Hasan.
Angka itu menunjukkan instrumen ETF emas masih dalam tahap awal perkembangan di pasar modal Indonesia. Bandingkan dengan pasar emas fisik yang sudah lama menjadi pilihan investor ritel Tanah Air.
Bagi investor, kehadiran ETF emas memberi alternatif eksposur terhadap harga emas tanpa harus menyimpan batangan fisik. Produk ini diperdagangkan di bursa layaknya saham, sehingga lebih likuid dan mudah diakses.
Apa Artinya bagi Investor Ritel
ETF multikelas membuka opsi diversifikasi lebih luas karena dapat memuat beberapa kelas aset dalam satu produk. Namun instrumen ini menuntut pemahaman lebih dalam soal alokasi dan risiko di dalamnya.
OJK dan BEI belum memerinci jadwal pasti peluncuran produk-produk yang masuk pipeline. Yang jelas, pipeline penerbitan masih didominasi ETF emas seiring permintaan yang belum surut.
Pertumbuhan dana kelolaan ETF emas akan bergantung pada minat manajer investasi merilis produk baru dan respons investor ritel terhadap instrumen ini. Angka Rp93,9 miliar menjadi titik awal yang perlu dicermati perkembangannya hingga akhir tahun.