EKONOMIAKTUAL.ID — PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 96 persen pada 2050 melalui peta jalan dekarbonisasi menuju Net Zero Emission. Target itu setara pengurangan sekitar 24,9 juta ton CO2 ekuivalen, dengan sisa penurunan 100 persen diharapkan tercapai lewat inisiatif berbasis alam.
PT Pupuk Indonesia (Persero) menyiapkan sejumlah strategi untuk memangkas emisi gas rumah kaca. Langkah itu mencakup efisiensi energi, pemanfaatan CO2 menjadi produk bernilai tambah, penggunaan energi hijau, hingga pengembangan amonia bersih.
Senior Project Manager Sustainability and Clean Ammonia PT Pupuk Indonesia Erlangga Rismantojo menyebut target tersebut bagian dari peta jalan dekarbonisasi perusahaan menuju Net Zero Emission 2050.
"Pupuk Indonesia telah menyusun peta dekarbonisasi. Hingga tahun 2050 target kami adalah untuk menurunkan emisinya sampai 96 persen atau sekitar 24,9 juta ton CO2 ekuivalen melalui technology based initiatives dan mencapai penurunan emisi 100 persen dengan tambahan inisiatif berbasis alam atau nature-based solutions," ujar Erlangga dalam sesi Decarbonizing Business: Driving ESG Performance and Competitiveness pada Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Kamis (17/9).
Efisiensi Energi dan Pabrik Soda Ash di Bontang
Efisiensi energi menjadi salah satu langkah utama menekan konsumsi gas bumi dan emisi dari proses produksi. Pupuk Indonesia juga mendorong modernisasi serta optimasi fasilitas produksi agar tetap kompetitif sekaligus lebih rendah karbon.
Transformasi diarahkan bukan sekadar mengurangi emisi, tetapi memanfaatkan kembali karbon menjadi produk bernilai tambah. Salah satu implementasinya adalah pengembangan pabrik soda ash di Bontang, Kalimantan Timur.
Dalam proyek itu, emisi CO2 dari proses produksi dipakai sebagai bahan baku soda ash yang dibutuhkan industri kaca dan deterjen. Menurut Erlangga, pemanfaatan CO2 tersebut membuka peluang terbentuknya rantai industri baru berbasis karbon.
Produk kaca yang dihasilkan, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan panel surya. Dari situ tercipta keterkaitan dengan pengembangan energi terbarukan.
Skema Clean Ammonia dan Teknologi CCS
Sejumlah proyek clean ammonia terus dikaji dan dikembangkan. Perusahaan tengah melakukan penjajakan serta kajian pembangunan fasilitas green ammonia di sejumlah lokasi existing dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan.
Salah satu skema yang dikaji adalah penggunaan listrik berbasis energi terbarukan melalui Renewable Energy Certificate (REC). Langkah itu menjadi bagian dari upaya mengurangi intensitas emisi dalam proses produksi amonia.
Untuk pengembangan blue ammonia, fasilitas Carbon Capture and Storage (CCS) menjadi salah satu enabler utama. Teknologi ini menangkap CO2 dari proses produksi, lalu menyimpannya melalui injeksi ke dalam formasi geologi bawah permukaan.
Implementasi CCS membutuhkan koordinasi dengan penyedia jasa, pembangunan infrastruktur, serta kajian kelayakan lebih lanjut.
Diversifikasi Energi dan Bahan Baku
Di sisi energi, Pupuk Indonesia melakukan diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber sekaligus memperkuat ketahanan energi. Inisiatifnya antara lain mengembangkan instalasi solar photovoltaic, pemanfaatan biomassa, serta penggunaan REC.
Diversifikasi juga menyentuh bahan baku. Dinamika rantai pasok global menunjukkan pentingnya industri pupuk memiliki sumber bahan baku yang beragam.
Pupuk Indonesia saat ini masih mengimpor sebagian bahan baku karena tidak seluruh kebutuhan dapat dipenuhi dari dalam negeri. Untuk menjaga keamanan pasokan, perusahaan bekerja sama dengan pemasok fosfat, potash, dan sulfur dari sejumlah negara.
Selain diversifikasi, perusahaan mendorong integrasi vertikal dengan mengupayakan penguasaan sumber bahan baku di berbagai lokasi. Strategi itu ditujukan mengurangi risiko gangguan pasokan akibat dinamika global.
Erlangga menegaskan transformasi hijau bagi Pupuk Indonesia bukan hanya soal penurunan emisi, tetapi juga upaya menjaga keberlanjutan industri dan ketahanan pangan.
"Di Pupuk Indonesia kami melihat transformasi hijau itu adalah suatu keharusan," pungkasnya.
Katadata SAFE 2026 merupakan forum tahunan yang digelar sejak 2020 sebagai ruang bagi pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, dan masyarakat membahas tantangan serta peluang menuju ekonomi lebih berkelanjutan. Memasuki tahun ketujuh, forum itu mengusung tema The Green Changer dan berlangsung pada 16–17 September 2026 di Sudirman Hall, Sequis Tower, SCBD Jakarta.
Langkah dekarbonisasi Pupuk Indonesia menyentuh hampir seluruh mata rantai produksi, dari bahan baku hingga energi. Bagi industri pupuk yang masih bergantung pada gas bumi, keberhasilan peta jalan ini akan menentukan daya saing sekaligus posisi perusahaan dalam rantai pangan nasional.