BoJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25 Persen, Era Uang Murah Jepang Berakhir

Sabtu, 19 September 2026 | 13:08:00 WIB
BoJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25 Persen, Era Uang Murah Jepang Berakhir

EKONOMIAKTUAL.ID — Bank of Japan menaikkan suku bunga acuannya dari 1 persen menjadi 1,25 persen pada Jumat (18/9/2026), level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Kenaikan ini menandai berakhirnya era biaya pinjaman ultra-rendah yang sudah berlangsung puluhan tahun di Jepang.

Keputusan Bank of Japan menaikkan suku bunga ke 1,25 persen menjadi yang tertinggi sejak 1995. Langkah ini diambil saat sejumlah bank sentral utama dunia kembali mengetatkan kebijakan moneter mereka.

Tekanan inflasi global yang dipicu kenaikan harga energi akibat perang Iran turut mendorong kebijakan ini. The Federal Reserve juga menempuh langkah serupa pada Rabu sebelumnya.

Jepang Tinggalkan Bunga Supermurah

BoJ mulai menaikkan suku bunga sejak 2024, ketika tingkat bunga masih berada di minus 0,1 persen. Dalam dua setengah tahun terakhir, bank sentral Jepang sudah menaikkan suku bunga sebanyak enam kali.

Pengetatan moneter biasanya membuat mata uang suatu negara menguat karena aset dalam denominasi mata uang tersebut menjadi lebih menarik bagi investor global.

"One of the world's last sources of ultra-cheap money is disappearing," kata Lale Akoner, analis pasar dari perusahaan investasi eToro, kepada BBC.

Yen Melemah dan Inflasi Mulai Naik

Jepang menghadapi tantangan ekonomi berlapis: yen yang terus melemah, kenaikan harga, dan menyusutnya jumlah tenaga kerja. Data resmi yang dirilis sebelum pengumuman BoJ menunjukkan inflasi inti turun menjadi 1,7 persen pada Agustus dari 1,8 persen bulan sebelumnya.

Angka itu masih relatif dekat dengan target BoJ sebesar 2 persen. Meski tidak tinggi dibandingkan standar internasional, kenaikan harga merupakan fenomena baru bagi Jepang yang selama tiga dekade mengalami inflasi sangat rendah bahkan deflasi.

Pada Agustus, Tokyo dan Washington mengonfirmasi intervensi bersama untuk menghentikan pelemahan yen setelah mata uang Jepang mencapai level terendah dalam 40 tahun. Intervensi itu menjadi yang pertama dilakukan secara bersama sejak 2011.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan meminta Gubernur BoJ Kazuo Ueda untuk "do the right thing" guna menopang yen.

Harga Energi Jadi Pemicu Utama

Harga minyak dan gas dunia meningkat tahun ini setelah perang Iran mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz. Jepang sangat rentan terhadap gangguan tersebut karena bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.

"Jika yen tetap lemah meski suku bunga lebih tinggi, tekanan inflasi yang muncul dapat memaksa BoJ memperketat kebijakan lebih cepat dari yang diinginkan pasar maupun pemerintah Jepang," ujar Akoner.

Jepang tidak sendirian. Setidaknya sembilan bank sentral lain juga menaikkan suku bunga pada pekan yang sama, dengan lonjakan inflasi akibat harga energi sebagai pemicu utama.

Bagi investor Indonesia, kenaikan suku bunga Jepang berpotensi mengubah arah aliran modal global. Yen yang menguat dapat mengurangi daya tarik carry trade yang selama ini memanfaatkan bunga murah Jepang untuk berinvestasi di aset berimbal hasil tinggi termasuk di pasar emerging market.

Terkini