Harga Emas Dunia Melonjak 1,92% ke US$ 4.345,5, Bangkit Usai Koreksi Tiga Hari

Jumat, 18 September 2026 | 07:08:00 WIB

EKONOMIAKTUAL.ID — Harga emas dunia di pasar spot ditutup melesat 1,92% ke US$ 4.345,5 per troy ons pada Kamis (17/9/2026), mengakhiri koreksi tiga hari beruntun yang sempat menggerus nilainya hampir 2%. Aksi borong investor kembali muncul setelah harga dinilai sudah murah. Kenaikan yield obligasi dan penguatan dolar AS diperkirakan masih membatasi ruang gerak emas dalam waktu dekat.

Harga logam mulia bangkit dari tekanan jual yang berlangsung tiga hari sebelumnya. Sepanjang periode koreksi itu, harga emas terkikis hampir 2% sebelum akhirnya berbalik arah.

Level US$ 4.345,5 per troy ons menjadi penutupan tertinggi dalam beberapa sesi terakhir. Pemulihan ini terjadi di tengah arus modal yang kembali mencari aset safe haven.

Investor Kembali Buru Emas di Level Murah

Penurunan harga selama tiga hari membuat sebagian investor menilai emas sudah berada di titik masuk yang menarik. Aksi beli kembali mengalir dan mendorong harga naik hampir 2% dalam sehari.

Pola ini lazim terjadi di pasar komoditas ketika koreksi teknikal memicu minat beli baru. Emas yang sempat kehilangan momentum justru kembali dilirik sebagai instrumen lindung nilai.

Yield Obligasi dan Dolar AS Masih Jadi Penghalang

Kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar Amerika Serikat menjadi dua faktor yang menahan laju emas. Keduanya secara historis bergerak berlawanan dengan harga logam mulia.

Christopher Wong, Strategist di Oversea-Chinese Banking Corp., menilai kenaikan harga emas saat ini bagian dari koreksi atas reaksi pasar yang berlebihan.

"Sedang terjadi koreksi dari reaksi yang berlebihan. Namun kenaikan yield (imbal hasil) obligasi dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) masih akan membatasi gerak harga emas dalam waktu dekat," kata Wong, dikutip dari Bloomberg News.

Tekanan Eksternal Belum Sepenuhnya Reda

Penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Kondisi ini cenderung menekan permintaan dari pasar non-AS.

Di sisi lain, yield obligasi yang tinggi memberikan alternatif imbal hasil bagi investor dibandingkan memegang emas yang tidak menghasilkan bunga. Kombinasi keduanya menjadi tembok yang sulit ditembus emas untuk naik lebih jauh.

Jual atau Beli? Ini Pertimbangannya

Bagi investor yang sudah memegang emas, kenaikan hampir 2% ini bisa menjadi momentum untuk mengunci keuntungan. Apalagi jika posisi dibuka saat harga masih di bawah level saat ini.

Sebaliknya, investor yang belum masuk perlu mencermati arah yield obligasi dan pergerakan dolar AS dalam beberapa hari ke depan. Kedua indikator itu akan menentukan apakah reli emas berlanjut atau justru berbalik lagi.

Volatilitas emas dalam sepekan terakhir menunjukkan pasar masih mencari arah. Koreksi tiga hari yang diikuti lonjakan hampir 2% menandakan sentimen investor belum solid.

Pergerakan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada data ekonomi AS dan sinyal kebijakan suku bunga. Selama yield dan dolar masih menguat, ruang kenaikan emas diperkirakan terbatas.

Terkini