EKONOMIAKTUAL.ID — NASA bersiap memesan dua misi berawak tambahan dari Boeing untuk kapsul Starliner, langkah yang memastikan Amerika Serikat tetap punya lebih dari satu kendaraan antariksa setelah SpaceX berencana memensiunkan Crew Dragon pada 2030. Keputusan ini datang meski Starliner selama ini bergelimang masalah teknis, termasuk gangguan pendorong yang berulang. Tanpa langkah tersebut, NASA berisiko bergantung pada satu moda transportasi saja untuk mengirim astronaut ke stasiun antariksa.
Beberapa sumber yang dikonfirmasi kepada Ars Technica menyebut NASA akan mengumumkan pemesanan dua misi berawak Starliner tambahan paling cepat pekan depan. Lembaga antariksa itu juga akan menanggung sebagian biaya perbaikan masalah pendorong kapsul tersebut.
Selain itu, NASA akan memberi dukungan untuk sertifikasi peluncuran Starliner di atas roket baru. Langkah ini diambil setelah roket Atlas V yang selama ini mengangkut Starliner akan memasuki masa pensiun.
Mengapa NASA Butuh Starliner Tetap Terbang
SpaceX dalam pembicaraan dengan pejabat NASA beberapa bulan terakhir menyatakan niatnya memensiunkan Crew Dragon pada 2030, bahkan mungkin lebih cepat. Crew Dragon saat ini menjadi satu-satunya wahana operasional yang dimiliki NASA untuk misi rutin astronaut ke orbit rendah Bumi.
Kondisi itu membuat NASA berada di posisi rawan. Jika Crew Dragon berhenti beroperasi tanpa pengganti, Amerika Serikat kehilangan kemampuan mandiri mengirim manusia ke stasiun antariksa.
Starliner sebenarnya dirancang sebagai kendaraan kedua dalam program Commercial Crew. Namun rekam jejaknya di ruang angkasa jauh dari mulus, dengan sejumlah gangguan teknis yang membuat NASA sempat menyingkirkannya dari jadwal utama.
Dorongan dari Kalangan Pemerintah
Tekanan agar Boeing tetap menerbangkan kapsulnya datang dari dalam pemerintahan sendiri. "Mereka harus menerbangkan kapsul mereka. Pemerintah sudah membayar mahal untuk itu," ujar salah satu pihak yang dikutip dalam pemberitaan tersebut.
Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran bahwa investasi besar pemerintah federal untuk pengembangan Starliner tidak boleh berakhir sia-sia. Boeing sendiri telah menerima dana signifikan dari NASA sejak program ini dimulai.
Apa Arti Langkah Ini bagi Boeing dan SpaceX
Pemesanan dua misi tambahan memberi Boeing kepastian jadwal produksi dan penerbangan. Artinya, lini perakitan Starliner di fasilitas Boeing tetap hidup setidaknya hingga beberapa tahun ke depan.
Bagi NASA, langkah ini menjaga prinsip redundansi dalam program antariksa berawak. Dua penyedia layanan berbeda mengurangi risiko total jika salah satu kapsul mengalami kegagalan atau grounding berkepanjangan.
Perbaikan masalah pendorong menjadi syarat utama sebelum Starliner bisa dinyatakan aman untuk misi rutin. NASA disebut akan menanggung sebagian biaya rekayasa ulang sistem propulsi tersebut.
Sertifikasi peluncuran di roket baru juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Starliner selama ini mengandalkan Atlas V buatan United Launch Alliance, yang akan pensiun dalam beberapa tahun ke depan.
Yang Belum Jelas dari Rencana Ini
Belum ada keterangan resmi soal roket pengganti yang akan dipakai Starliner. Juga belum jelas berapa nilai kontrak untuk dua misi tambahan tersebut.
NASA dan Boeing belum memberikan pernyataan publik terkait laporan ini. Pengumuman resmi diperkirakan baru akan keluar pekan depan.
Yang jelas, keputusan ini menandai babak baru bagi Starliner. Kapsul yang sempat tersingkir dari sorotan kini kembali memegang peran sentral dalam rencana penerbangan antariksa berawak Amerika Serikat.