JAKARTA - Pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memberikan tanggapan terkait munculnya fenomena antrean pengisian biosolar di sejumlah SPBU di wilayah Makassar. Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto memaparkan, situasi tersebut dipicu oleh melonjaknya angka konsumen yang berpindah haluan dari produk Dexlite menuju biosolar bersubsidi.
Perpindahan ini disinyalir terjadi lantaran gap harga biosolar bersubsidi jauh lebih murah ketimbang Dexlite. Nominal harga biosolar berada di angka Rp6.800 per liter, sedangkan untuk dexlite menyentuh angka Rp20.150 per liter.
"Peningkatan antrean yang terjadi dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah konsumen yang beralih menggunakan biosolar bersubsidi karena adanya selisih harga dengan BBM nonsubsidi," jelasnya.
"Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya volume kendaraan yang melakukan pengisian di sejumlah SPBU," katanya.
Lilik memberikan penegasan, jajarannya memastikan bahwa proses distribusi biosolar bersubsidi tetap bergulir selaras dengan batas kuota yang telah ditetapkan.
"Secara operasional, penyaluran biosolar tetap berjalan sesuai kuota yang diberikan pemerintah melalui BPH Migas," ujarnya.
Antrean Mengakibatkan Kemacetan
Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, barisan antrean armada kendaraan yang berniat melakukan pengisian bahan bakar jenis biosolar tampak memanjang di rentetan SPBU Kota Makassar hingga memicu kemacetan arus lalu lintas.
Berdasarkan hasil pemantauan Kompas.com di rute Jalan Gunung Bawakaraeng, AP Pettarani, sampai ke Perintis Kemerdekaan, bermacam jenis kendaraan mulai dari truk, mobil boks, angkutan kota, hingga beberapa mobil pribadi terlihat mengantre sejak waktu pagi sampai malam hari.
Firman, salah seorang pengemudi mengutarakan, dirinya beserta rekan sejawat sesama sopir terpaksa bertolak lebih awal guna mengamankan barisan antrean agar tidak kehabisan stok bahan bakar.
"Iye (harus pagi), tadi dari jam 10.00 WITA, saya ambil memang parkiran," katanya, Sabtu (4/7/2026).
Firman menambahkan, faktor yang mendorong para pengemudi bertahan mengantre hingga larut malam disebabkan pasokan solar di kawasan Kota Makassar adakalanya tidak tersedia di tempat.
"Susah solar, kadang ada kadang tidak. Kau disini tidak ada ke Pettarani lagi," ujarnya.
"Biasa kalau ada info mau masuk, biasa buru-buru orang pergi antre. Kontak pegawai Pertamina ada disimpan jadi, kalau ada info pengisian baru lagi datang," jelasnya.
Ia memaparkan bahwa problem peliknya memperoleh pasokan solar di area Makassar ini turut mengganggu kelancaran aktivitas pekerjaannya.
Firman mengisahkan dirinya berniat untuk segera beraktivitas menarik kendaraan pada pagi hari, namun kendala minimnya ketersediaan solar membuat langkah kerjanya menjadi tersendat.
"Kalau begini lambat bekerja karena habis disini waktu. Biasa saya cepat mau keluar, tapi begini dibikin lagi (antre). Tapi begitulah bekerja risikonya biar bagaimana kalau kami liling cari tidak ada," katanya.