Rupiah Naik Jadi Rp17.980 per Dolar AS Didorong Kenaikan Cadev

Selasa, 07 Juli 2026 | 23:58:01 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.980 per Dolar AS, Didorong Sentimen Cadev RI [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah berakhir menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi penutupan perdagangan Selasa (7/7/2026), dipicu oleh respons positif pasar atas meningkatnya data cadangan devisa (cadev) Indonesia.

Mengacu pada laporan analisis Doo Financial Futures, mata uang rupiah menyudahi perdagangan dengan penguatan tipis sebesar 0,08% menuju level Rp17.980. Selain rupiah, tren penguatan terhadap dolar AS turut dialami oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia lainnya.

Lonjakan tertinggi dipimpin oleh won Korea yang terapresiasi sebesar 0,37%, diikuti ringgit Malaysia yang naik 0,26%, serta rupee India yang menguat 0,21%. 

Selanjutnya, yen Jepang berhasil menguat sebesar 0,14%, peso Filipina terangkat 0,10%, dan dolar Singapura merangkak naik tipis sebesar 0,02% terhadap dolar AS.

Sebaliknya, pelemahan terhadap mata uang paman sam menimpa dolar Taiwan yang turun 0,38%, disusul yuan China serta baht Thailand yang masing-masing terkoreksi sebesar 0,03%.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.980 per dolar AS setelah sempat bergerak cenderung mendatar di sepanjang sesi operasional pasar.

Apresiasi tersebut ditopang oleh sentimen positif dari pertumbuhan cadangan devisa Indonesia, yang mencatatkan kenaikan untuk pertama kalinya setelah terus merosot dalam enam bulan ke belakang.

 Walau begitu, laju penguatan rupiah cenderung masih tertahan lantaran para pemodal lebih memilih untuk bersikap wait and see seraya menanti perilisan beberapa indikator ekonomi dalam negeri yang diproyeksikan mampu memberikan arah baru bagi pasar.

"Data selanjutnya yang menjadi perhatian adalah penjualan ritel serta Indeks Keyakinan Konsumen atau IKK," kata Lukman, Selasa (7/7/2026).

Di luar sentimen domestik, pergerakan mata uang di Asia secara umum memperlihatkan tren yang baik terhadap dolar AS. 

Apresiasi ini terjadi sejalan dengan posisi indeks dolar yang bergerak relatif flat, di kala para pelaku pasar global menanti publikasi hasil notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang rencananya dirilis esok hari demi mencari indikasi kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Lukman memperkirakan dalam kurun waktu pendek, fluktuasi rupiah masih berisiko bergerak dalam rentang terbatas (range-bound).

 Namun, celah penguatan dinilai tetap terbuka andai data tingkat kepercayaan konsumen Indonesia mampu mencatatkan hasil yang melampaui estimasi pasar, sehingga mempertebal optimisme pada aktivitas konsumsi masyarakat.

"Dukungan dari kenaikan cadangan devisa memberikan sentimen positif bagi rupiah. Namun, pelaku pasar masih menunggu konfirmasi dari data ekonomi domestik berikutnya, terutama penjualan ritel dan Indeks Keyakinan Konsumen. Jika data tersebut menunjukkan perbaikan, rupiah berpotensi melanjutkan penguatannya," imbuhnya.

Menatap sesi perdagangan selanjutnya, pergerakan rupiah diprediksi bakal bergulir di rentang Rp17.950 sampai Rp18.050 per dolar AS, dengan dinamika sentimen domestik serta rilis risalah FOMC sebagai stimulan utama penentu arah mata uang Garuda.

Terkini