Kinerja Melejit, IPCM Bidik Peluang Bisnis di Selat Malaka

Selasa, 09 Juni 2026 | 23:16:37 WIB
PT Jasa Armada Indonesia Tbk. (IPCM).

jakarta - PT Jasa Armada Indonesia Tbk. (IPCM) berhasil menorehkan pertumbuhan kinerja keuangan yang positif selama lima tahun ke belakang. 

Pihak manajemen menilai bahwa prospek industri logistik pelabuhan serta pelayaran di tanah air terhitung sangat menjanjikan, walaupun tetap dibayangi oleh sejumlah tantangan.

Shanti Puruhita selaku Direktur Utama PT Jasa Armada Indonesia Tbk. menjabarkan bahwa sepanjang periode 2020-2025, perusahaan mengantongi compound annual growth rate (CAGR) pendapatan di angka 16,22%, sedangkan CAGR untuk laba bersih berada pada level 19,61%. 

Shanti mengutarakan bahwa emiten sanggup mempertahankan kinerja fundamentalnya dengan baik kendati sempat terpukul oleh pandemi Covid-19 yang dampaknya masih membekas pada 2020 sampai 2021. 

Hal tersebut menjadi bukti kuat bahwa sektor bisnis ini mempunyai posisi strategis dengan tingkat permintaan yang besar, bahkan di masa-masa krisis.

"Walaupun terjadi covid, namun karena kebutuhan dasar akan energi tetap ada, modal vital transportasi di seluruh dunia tetap melalui pelabuhan. Walaupun terjadi pembatasan di sektor udara, sektor pelabuhan tidak akan terjadi pembatasan. Begitu pula barang-barang energi yang sudah terjadwal untuk keluar," ujarnya dalam online public expose, Selasa (9/6/2026).

Membahas mengenai proyeksi dan potensi industri ke depan, Shanti menguraikan bahwa Indonesia memiliki 947 Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) serta 1.402 Terminal Khusus (Tersus) yang tersebar luas di seluruh penjuru negeri. 

Manajemen memandang sebaran ini sebagai peluang besar bagi IPCM untuk menjalin kolaborasi dalam menghadirkan jasa penundaan dan pemanduan kapal di tiap titik. 

Terlebih lagi, Indonesia mempunyai jalur perdagangan global yang sangat strategis yaitu Selat Malaka, yang dilintasi oleh 22% arus logistik dunia.

"Kami mencatat kurang lebih di tahun 2025 ada 102.500 kapal yang bergerak hilir mudik melewati jalur selat malaka ini, karena selat ini menghubungkan 300 lebih pelabuhan internasional yang ada di dunia," jelasnya.

Sementara itu, menilik dari aspek tantangan, meroketnya harga minyak dunia menjadi persoalan yang tengah dirasakan oleh seluruh korporasi di lini logistik. 

Dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, harga minyak mentah WTI sekarang tertahan di level US$90,28 per barel.

 Fenomena ini ikut mendongkrak kenaikan harga bahan bakar di pasar domestik.

"Karena buat kami harga BBM memang menjadi major, karena cost kami yang utama adalah bahan bakar ini," pungkasnya.

Merujuk pada laporan keuangan kuartal I/2026 yang belum diaudit, IPCM mencatatkan total beban pokok pendapatan senilai Rp252,12 miar.

Dari keseluruhan jumlah tersebut, sebanyak 30,9% atau setara dengan Rp82,85 miliar dialokasikan untuk keperluan bahan bakar, minyak pelumas, air, serta konsumsi.

Terkini